mengubah kursor tapi tidak mengubah kursor ketika menyorot link

Jumat, 18 Juli 2014

Mutiara Bir Zeit by Dian Yasmina Fajri (Cerpen)



Malam yang dingin ditingkahi angin gurun yang menderu dari arah Beit El. Di pinggir Desa Bir Zeit berbatasan dengan Beit El, di sebuah rumah kecil yang sebagian temboknya runtuh, nampak lampu minyak yang berkedip-kedip menerangi ruangan tempat dua orang tengah bermunajat dengan khusyuk.
Ketegaran nampak jelas di garis-garis wajah Jiddah Khadijah, nenek berusia lewat enam puluhan. Jari-jarinya bergetar menengadah ke langit. Aliran bening bercucuran dari kedua matanya. Di sampingnya cucu perempuannya ikut terpekur dalam doa yang panjang. Lintasan-lintasan peristiwa duka berkelebat silih berganti.
Suatu pagi yang cerah di perkebunan anggur di Bethlehem, penuh ceria para pegawai perkebunan memanen anggur-anggur yang ranum. Namun, tiba-tiba puluhan truk serdadu Israel memasuki perkebunan dan berteriak-teriak menyuruh mereka pergi.
"Hei, Biadab-biadab, pergi dari tanah ini! Pemerintah Israel memutuskan tempat ini dijadikan perluasan ruang hijau... green oasis!" teriak salah seorang serdadu.
Dengan kasar ia memukuli pegawai-pegawai perkebunan yang terlolong kaget karena kedatangan mereka yang tiba-tiba.
"Palestinian Desert ini akan dijadikan ruang hijau. Hei, orang-orang dungu! Kenapa tak segera pergi dari sini?"
"Kenapa kalian tak pergi ke gurun kalau benar ingin memperluas ruang hijau?" teriak mandor perkebunan.
"Ya, benar. Tempat ini sudah hijau, bukan gurun lagi!" sambung seorang pegawai lain.
"Siapa yang menyuruh kalian menjawab, heh?" Serdadu Israel murka.
Plak...plak...plak...!
Laras senjata langsung menghantam kepala.
Dor...dor...dor...!
Dengan membabi buta tentara-tentara sinting itu menghamburkan pelurunya. Orang-orang di perkebunan segera menyingkir ke balik-balik tembok.
Mendengar ribut-ribut itu, Sayyid Ibrahim keluar dari ruang kerjanya. Tergopoh ia segera mendekati keributan ketika dari jauh dilihatnya beberapa pegawainya bergelimpangan di tanah.
"Cepat pergi dari sini, setan-setan jahanam!" teriak serdadu gila itu sambil membabati pohon-pohon anggur.
"Hei... hei, apa yang kalian lakukan di kebunku? Mana surat izin kalian untuk melakukan perusakan ini?" Sayyid Ibrahim berteriak sambil tergopoh menghampiri.
Seorang serdadu segera mencengkeram leher kemejanya seraya berucap, "Kami tak perlu izin untuk mengambil apa saja milik kalian! Tuhan sudah merelakan kami untuk melakukan apa saja terhadap kalian. Dia menciptakan kalian untuk melayani kami. Paham, hei lelaki jelek!"
"Biadab, lepaskan suamiku!" Tiba-tiba Khadijah berlari dari arah dapur. Saat itu ia tengah mengontrol para koki yang sedang mempersiapkan makan siang untuk para pegawainya.
"Jadi ini suamimu?" Serdadu-serdadu itu tertawa mengejek. "Lihat apa yang kami lakukan terhadap suamimu yang jelek ini!"
Bak...buk...bak...buk...!
Mereka memukuli perut Sayyid Ibrahim.
"Agh...agh, hentikan...agh!" Sayyid Ibrahim tersengal menahan sakit.
Beberapa pegawainya berusaha menolong, tapi tendangan para tentara itu segera mendarat di perut-perut mereka.
"Hentikan, hentikan! Hasan, Shofwan, bantu tuan kalian!"
Khadijah memanggil beberapa pegawainya. Tapi baru saja mereka hendak bergerak menolong, peluru-peluru sudah menghampiri hingga membuat mereka roboh berlumuran darah.
"Muhammad, Masya Allah di mana kalian? Cepat tolong...tolong!" Tubuh tua Sayyid ringsek diinjak-injak sepatu lars serdadu yang menggila.
"Kau lihat, nenek tua. Ini hadiah bagi yang berani melawan!"
Dor...dor...dor...!
Rentetan peluru menghabisi nyawa Sayyid Ibrahim.
"La haula wala quwwata illa billah!" Sayyid masih bisa memekik. Khadijah melolong histeris sambil berusaha memukul serdadu-serdadu itu, tapi beberapa orang pegawainya segera menahannya.
"Sudah, Sayyidah. Cepat kita pergi dari sini!" kata mereka sambil menyeret Khadijah.
"Kami beri waktu satu jam untuk meninggalkan tempat ini!" teriak komandan serdadu laknatullah itu.
Tangis Khadijah pecah, "Mereka membunuh suamiku...mereka membunuh suamiku hu...hu...hu...!"
"Sudahlah, Sayyidah. Cepat pergi dan bergegas sebelum mereka merampas harta kita yang lain!"
Benar saja, beberapa menit kemudian mereka menjarah apa saja barang berharga yang dapat mereka bawa. Emas, uang, barang-barang elektronik. Sementara sebagian serdadu lain sibuk mengumpulkan para wanita muda.
"Ambil yang cantik-cantik saja. Yang buruk-buruk kita ceburkan ke Laut Mati! Hahaha...!"
Teriak histeris bergema dari mulut wanita-wanita perkebunan.
"Jangan sentuh kamarku untuk maksiat!"
Khadijah berteriak tersengat. Namun, rentetan peluru menjawabnya. Beruntung ia masih bisa berkelit ke kamar lain. Lolongan para perempuan yang tak rela kehormatannya direnggut memilukan siapa pun yang masih punya hati nurani. Akan tetapi, orang-orang Yahudi itu malah semakin beringas dan tertawa kegirangan.
Hanya berbekal baju di badan dan beberapa perhiasan yang melekat di lengannya Khadijah meninggalkan semuanya, harta benda dan perkebunan warisan orang tuanya yang telah dirawatnya dengan susah payah. Kini karena rumahnya telah hancur, rata dengan tanah, ia terpaksa tinggal di jalan. Menderita setelah sekian lama hidup dalam kemakmuran. Beruntung masih ada bekas pegawainya yang memberinya tumpangan hidup.
Beberapa saat kemudian datang kabar dari anaknya yang tinggal di Bir Zeit bersama suaminya. Mereka mengajaknya tinggal bersama. Khadijah sangat bersyukur. Ketika ia berangkat dengan utusan anaknya yang ditugasi mengawalnya pergi ke Bir Zeit, terlihat di hampir sepanjang perjalanan tentara Israel tengah membangun pemukiman baru bagi warga Yahudi. Dengan helikopter mereka membawa rumah-rumah yang siap pasang seperti halnya permainan lego, dan dalam hitungan hari saja sudah ratusan rumah berdiri. Kenangan lama pun terbayang dan kebencian terhadap Yahudi semakin menjadi-jadi dalam hati Khadijah.
Seminggu setelah ia bergabung dengan anak-menantunya, musibah menimpa lagi. Tentara Israel mengadakan penggeledahan ke rumah-rumah penduduk untuk menyisir para teroris. Menantu lelakinya yang ketahuan aktif di pergerakan ditembak mati di tempat, sedang anak perempuannya diperkosa di depan cucunya, Durah, yang berusia enam tahun. Sedapat mungkin ia menyembunyikan kepala Durah agar tak menyaksikan kebiadaban itu. Namun, lolongan kepedihan ibunya saat dianiaya dan dibunuh Yahudi telah membuat Durah stres hingga beberapa tahun kemudian.
Sejak saat itu, Khadijah tinggal berdua saja dengan Durah dari satu penampungan ke penampungan lain hingga mereka terdampat di reruntuhan rumah di tepi perkampungan Bir Zeit itu. Sekuat tenaga Khadijah mendidik Durah agar tegar dan tumbuh jadi pribadi yang berakhlak karimah.
***
"Kholi Jabir tadi siang mengabarkan bahwa aku sudah lolos seleksi, Jiddah!" ucap Durah pelan ketika mereka usai bertahajud.
Jiddah Khadijah yang tengah merapikan karpet sajadahnya kaget. "Benarkah? Subhanallah walhamdulillah!"
Serta merta ia memeluk cucunya. Debaran rasa bahagia, takut kehilangan, dan bangga berbaur di hatinya. Kebahagiannya kini lebih dari ketika mendengar kabar Durah diterima di Universitas Bir Zeit dengan ranking pertama. Ini sebuah anugerah besar bagi Durah mengingat begitu sibuknya Durah membantunya menyapu jalan-jalan di perumahan Yahudi atau menjadi buruh pemetik buat di ladang-ladang milik Yahudi. Ternyata cucunya masih lebih membanggakan dari itu semua. Ini sebuah anugerah besar.
"Kita memang selama ini mencari makan dengan menjadi budak musuh sendiri," begitu yang sering Durah ucapkan ketika keletihan sehabis bekerja.
***
Khadijah yakin cucunya pasti bisa mengemban tugas itu. Ia ingat betapa saat itu ia berusaha meyakinkan komandan Brigade Al Aqsa bahwa walaupun belum genap tujuh belas tahun kecerdasan dan keterampilan Durah lebih dari rekan sebayanya. Khadijah juga berusaha meyakinkan Jabir, keponakannya yang aktif di Hamas, untuk merekomendasikan cucunya bagi perjuangan Palestina.
"Tidak berlaku rekomendasi, wahai Khallah Khadijah. Semuanya harus melewati seleksi yang ketat!" jelas Jabir pada bibinya waktu itu.
"Tapi sudah sejak usia sembilan tahun ia bercita-cita syahid! Itu yang ia dengungkan setiap hari," kilah Khadijah.
"Alhamdulillah, banyak yang bercita-cita mulia seperti itu. Dari Bethlehem saja ada dua ratus perempuan yang siap syahid, belum lagi dari Jenin, Ramallah, dan Gaza!" ujar Jabir.
"Kalau begitu biarlah aku ikut seleksi Kholi Jabir!" tiba-tiba Durah ikut bersuara. Rupanya ia ikut mendengar percakapan itu.
"Hanya dibutuhkan orang yang tahan banting dan tahan stres seperti tentara, wahai Durah!"
"Akulah orangnya, Paman. Insya Allah!"
"Tapi nanti siapa yang akan merawat nenekmu?"
"Jangan pikirkan aku!" kilah Khadijah. "Kau tahu, ya Ibnul Akhi, aku sudah kenyang menderita. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Saat ini pun sebenarnya aku ingin bersama cucuku menyongsong syahid!"
"Baiklah, nanti paman akan hubungkan kau dengan unit seleksi kandidat syahid," ujar Jabir pada Durah.
Senyum merekah di wajah Durah si mutiara besar. Wajah yang selama bertahun-tahun selalu serius itu nampak bahagia.
Beruntunglah Durah memiliki dasar-dasar Islam yang kuat hasil didikan neneknya hingga ia bisa lolos seleksi awal. Ada juga orang yang mengamati bagaimana akhlak dan penghayatannya dalam menjalankan syariat Islam sehari-hari dan Durah sangat memuaskan dalam hal tersebut. Selain itu, ia juga melewati seleksi penyamaran, yaitu dengan mendatangi pesta-pesta Yahudi untuk dilihat bagaimana keluwesannya dalam bergaul hingga bisa masuk ke dalam lingkungan Yahudi.
"Jiddah, hari-hari ke depan aku mungkin tak bisa membantumu mengumpulkan sampah-sampah di jalan!" ujar Durah suatu hari.
"Mengapa?"
"Divisi Seleksi Akhir memintaku untuk ikut mendalami agama dan lebih memahami apa arti kesyahidan lewat diskusi-diskusi!"
"Pergilah, Nak. Kau tahu Nenek selalu mendukungmu untuk hidup mulia atau meraih kesyahidan!"
Akhirnya Durah pergi ke tempat yang telah ditentukan. Suatu tempat rahasia yang tak diketahui tentara Yahudi dan mata-matanya. Durah memasuki ruangan yang hanya diterangi lampu minyak dan ia melihat semua anggota Brigade Al Aqsa nampak menyandang senapan kalashnikov.
Di ruangan yang temaram itu sudah hadir beberapa akhwat lain. Mereka tengah menyimak video para syuhada yang telah mendahului mereka.
"Mari kita analisa kelemahan dan kelebihan serangan para syahid ini!" Abu Zam-Zam yang memimpin Divisi Seleksi Akhir memandu diskusi. Ungkapan-ungkapan cerdas keluar dari para perempuan pemberani itu.
"Abu Zam-Zam, bila melihat rekaman video-video ini nampak keberanianlah yang paling dibutuhkan. Lalu mengapa di awal seleksi akhlak juga menentukan kelulusan kami?" Durah bertanya.
"Wahai, Anakku. Bila kita ingin menang dalam berjuang, keimanan harus digembleng sedangkan akhlak adalah buahnya iman. Sebaik-baik orang beriman adalah yang paling baik akhlaknya. Inilah yang mengantarkan kita pada kesuksesan perjuangan."
"Mengapa kita hanya berjuang sendiri, ya Abu Zam-Zam?"
"Tidak, Durah. Jutaan muslimin dari Yordan hingga Indonesia dan bahkan dari seluruh dunia membantu kita lewat doa, dana, dan demo-demo di panas terik. Bahkan bayi dan balita mereka pun ikut berdemo. Satu kilo TNT seharga seratus dolar atau sebuah kalashnikov seharga dua ribu dolar adalah di dalamnya saham mereka untuk membantu kita."
"Mengapa kita belum juga bisa menyelamatkan Palestina, ya Abu Zam-Zam?" seorang akhwat lain bertanya.
"Menyelang Perang Yarmurk Abu Bakar berpesan pada Khalid bin Walid, 'Perangilah musuhmu sepadan dengan penyerangan mereka kepadamu. Pedang dengan pedang, tombak dengan tombak.'" Abu Zam-Zam memulai penjelasannya.
"Tokoh Yahudi Ben Gurion mengatakan, 'Tiap orang Yahudi wajib hijrah ke Israel. Orang Yahudi yang tinggal di luar Israel dianggap menyimpang dari Taurat dan bukan pengikut Yudaisme!'"
"Tank-tank pertama Israel ketika menguasai Semenanjung Sinai ditempeli ayat-ayat Taurat. Ketika mereka menguasai Yerusalem mereka berteriak, 'Hidup Taurat!' Lalu mereka menuju Dinding Ratapan dan membangun kuil Sulaiman. Bila Israel saja menyerang kita atas nama Yahwe, Tuhan orang Yahudi, kita pun berjuang harus atas nama Allah. Motivasi Israel adalah Yudaisme maka motivasi kita haruslah Islam!" Abu Zam-Zam diam sejenak agar pendengarnya meresapi kata-katanya.
"Apakah kalian melihat semangat Islam itu ada pada sebagian orang yang mengaku pejuang Palestina?" tanyanya penuh tekanan.
Anak-anak muda itu terdiam. Terlintas dalam benak mereka slogan-slogan Nasionalisme, Arabisme, dan isme lain mengitari perjuangan merebut Palestina.
"Apakah pesan Abu Bakar untuk sepadan dalam menghadapi musuh ada pada pejuang Palestina?" tandas Abu Zam-Zam lagi. "Kalau mereka menyerang dengan Taurat, kita harus menyerang dengan Al-Qur'an. Kalau mereka menyerang dengan mengibarkan panji-panji Nabi Musa, kita mengibarkan Panji Musa, Isa, dan Muhammad! Kalau mereka menyerang karena membela Haikal Sulaiman, kita berjuang untuk membebaskan Al Aqsa!"
"Allahu Akbar...!" pekik semangat menggelora.
"Tapi, Abu, senjata mereka super canggih!" sela Durah lagi.
"Durah, ketika pasukan muslimin berhadapan dengan Romawi ataupun Persia, persenjataan kita pun tak kalah kunonya. Bukankah mereka berjuang mencari mati syahid sedang lawan mereka berperang mencari hidup? Itulah teror yang ditakuti lawan!" Penuh tekanan Abu Zam-Zam mengatur kata-katanya.
"Maka ingat, kalau Yahudi berteriak pada pasukannya, 'Kalian bangsa pilihan,' teriakkan pula pada pasukan kita, 'Kuntum khaira ummah ukhrijat linnas'"!
"La haula wala quwwata illa billah!" ucap para akhwat itu.
***
Khadijah mengusap air mata bahagia.
"Besok sore aku akan melakukan misi itu. Nenek bisa menjaga rahasia, kan?"
"Kau tahu siapa aku, Cucuku!"
"Setelah kita sahur, aku akan melanjutkan munajat dan mengkhatam Al-Qur'an," ujar Durah riang.
Pada waktu sahur. Baru saja mereka menggigit roti gandum bekas makan semalam, pintu depan digedor dengan ribut. Tak pelak lagi, itu gaya serdadu Israel.
"Teroris-teroris itu pasti bersembunyi di sini. Ayo buka pintu!"
Brak...brak...brak...!
Pintu dijebol.
"Cepat selamatkan dirimu, Durah. Misi muliamu tak boleh terhalang para laknatullah itu!"
Tak membuang waktu, diciumnya tangan neneknya. Tanpa sempat lagi mengucapkan kata perpisahan, ia segera melesat ke jalan-jalan rahasia menuju ke suatu tempat yang tak seorang pun tahu.
Serdadu Israel berhasil mendobrak pintu. Nenek Khadijah berkacak pinggang di depan mereka.
"Mau apa kalian? Tengah malam mendobrak rumah. Tak tahu sopan santun!"
"Diam! Di mana kau sembunyikan teroris itu?"
"Teroris apa? Aku hanya tinggal sendiri!" jawab nenek Khadijah lantang.
Serdadu Israel itu mendorongnya hingga terjungkal. Mereka menggeledah seluruh ruangan hingga ke loteng. Mereka mengambil uang yang mereka temukan dan membuat rumah porak-poranda. Ketika sasaran yang mereka cari tak ketemu, mereka pun meninggalkan tempat itu.
Nenek Khadijah terus saja berdoa untu keselamatan cucunya. Jangan sampai cucu tercintanya tertangkap serdadu Israel.
***
Detik demi detik berjalan lambat. Berkali-kali Nenek Khadijah melihat ke arah jam dinding. Ia pun bolak-balik dari tempatnya bekerja di perkebunan ke sebuah rumah tetangganya yang punya televisi.
"Jiddah Khadijah, ada telepon untukmu!" Pemilik rumah berteriak memanggilnya.
Dengan gugup Nenek Khadijah memegang gagang telepon. Dari seberang terdengar suara Durah lewat telepon genggam.
"Nek, aku ada di Yerusalem, dekat David's Tower. Kami berputar-putar dari jalan Mamilla hingga ke Jaffa Gates. Aku tengah menanti instruksi sasaran, lima belas menit lagi. Doakan aku. Selamat tinggal, Jiddah sayang!" Terdengar suara Durah agak bergetar ketika mengucapkan kata berpisah.
Gelombang perasaan melanda hati nenek tua itu, antara takut, harap, dan bahagia. Ia pun kemudian terpekur di depan televisi menunggu berita.
Berkilo-kilo meter dari Bir Zeit, tak kalah hati Durah gundah. Sepuluh kilo TNT dan lima kilo paku baja siap di rompinya. Ia tak ingin ribuan dolar ini sia-sia.
Sejam kemudian penyiar televisi memberitakan. Seorang remaja putri tujuh belas tahun meledakkan dirinya di pusat pertokoan Jerusalem. Dari televisi, Nenek Khadijah melihat cabikan-cabikan daging dan carikan pakaian yang biasa dipakai cucunya. Diberitakan tiga puluh orang Israel tewas dan seratus orang lainnya luka-luka. Di layar kaca terlihat darah menggenang ke jalan-jalan hingga mengotori dinding.
"Subhanallah...! Subhanallah...! Walhamdulillah!" Ia berteriak-teriak hingga membuat para tetangga berdatangan. "Mahasuci Allah yang telah menakdirkan cucuku menjadi syahidah!"
Dengan cucuran air mata gembira ia kembali ke rumah diiringi ucapan selamat para tetangganya. Ia pun mengundang para tetangganya berpesta.
Di tengah hiruk pikuk bahagia itu, dari ujung gang-gang desa, laras senjata serdadu Israel siap meledak.
Dan perjuangan masih berlanjut.
***
Jatiwarna, 15 Mei 2002.

Daftar Istilah:
- Sayyid(ah) : Tuan/Nyonya
- Khallah : bibi
- Kholi : paman
- Jiddah : nenek
- Ibnul Akhi : keponakan
- Kuntum khairah ummah ukhrijat linnas : kalian umat terbaik yang pernah diturunkan Allah untuk manusia.

MENGAPA ISRAEL MENGINCAR ANAK-ANAK GAZA?




“Saya bersumpah, akan saya bakar setiap anak yang dilahirkan di daerah (Palestina) ini. Perempuan dan anak-anak Palestina lebih berbahaya dibandingkan para pria dewasa, sebab keberadaan anak-anak Palestina menunjukkan bahwa generasi itu akan berlanjut…” [pernyataan Ariel Sharon, PM Israel: 1956]
Agresi militer Israel yang dimulai dari 27 Desember 2008 silam tak pelak lagi memang memfokuskan diri pada pembantaian anak-anak dan wanita-wanita Palestina di Jalur Gaza. Seperti yang diketahui, setelah lewat dua minggu, jumlah korban tewas akibat holocaust itu sudah mencapai lebih dari 900 orang lebih. Total, sekitar di atas 1500 Muslim Gaza meninggal. Hampir setengah darinya adalah anak-anak. Selain karena memang tabiat Yahudi yang tidak punya nurani, target anak-anak bukanlah kebetulan belaka.
Seusai Ramadhan 1429 Hijriah, Khaled Misyal, pemimpin Hamas yang rumahnya sekarang ini kemungkinan dihantam roket juga, melantik sekitar 3500 anak-anak Palestina yang sudah hafidz Al-Qur’an. Anak-anak ini tampaknya yang menjadi sumber ketakutan Zionist Yahudi. Anak-anak ini nanti akan menjadi batu sandungan dikemudian hari. Betapa hebatnya anak-anak Palestina hingga menjadi sosok paling menakutkan untuk Zionist Israel ini.
“Jika dalam usia semuda itu mereka sudah menguasai Al-Quran, bayangkan 20 tahun lagi mereka akan jadi seperti apa?” demikian pemikiran yang berkembang di pikiran orang- orang Yahudi. Tidak heran jika anak-anak Palestina menjadi para penghafal Al-Quran. Kondisi Gaza yang diblokade dari segala arah oleh Israel menjadikan mereka terus intens berinteraksi dengan Al-Qur’an. Tak ada main video-game atau mainan-mainan bagi mereka. Namun kondisi itu memacu mereka untuk menjadi para penghafal yang masih begitu belia.
Pada tahun 2008, sekitar 500 bocah penghafal Quran telah syahid. Namun, di rentang tahun itu
pula, ratusan bayi telah lahir dari rahim wanita- wanita Palestina. Subhanallah…
Menurut seorang relawan asal Indonesia yg datang ke Palestina, mengapa Yahudi mengincar ibu ibu dan anak anak, dikarenakan anak anak inilah kelak calon generasi yg akan menjadi musuh besar Israel. Anak anak Palestina terkenal pintar dan hafal alqur'an. Kenapa Israel begitu takut dengan anak anak Palestina yg hafal Qur'an? Karena dalam Al-Qur’an ada bergudang gudang ilmu yg sudah dipelajari oleh anak anak ini. Ilmu ketuhanan, ilmu pemerintahan, ilmu pengobatan, ilmu kemiliteran, ilmu akhirat, ilmu kejadian masa lalu, dan ilmu tentang kejadian di masa depan.
Subhanallah, betapa Alquran adalah kitab dengan sarang ilmu. Karena itu Israel khawatir dengan anak anak ini, karena sekecil itu mereka sudah menguasai begitu banyak ilmu, bagaimana setelah mereka besar nanti? Tentulah akan jadi sangat berbahaya bagi Israel.
Selain itu, anak anak Palestina begitu pemberani. Mereka tidak takut dengan perang, mereka tidak rapuh saat rumah dan keluarga mereka mati, mereka selalu tersenyum, dan mereka selalu penuh dengan tekad yg kuat untuk belajar. Jika sekecil itu mereka sudah sehebat itu, bagaimana setelah mereka besar?
Lalu mengapa ibu-ibu juga jadi target pembunuhan Israel? Karena Ibu adalah PABRIKnya. Ibulah yg melahirkan anak anak hebat itu, jika tidak ada ibu, tentu tidak akan ada anak anak hebat itu. Sementara ibu-ibu dipalestina kebanyakan melahirkan anak kembar dan ada ratusan bayi yg dilahirkan para ibu setiap harinya. Bayangkan, betapa takutnya bangsa Israel..

Minggu, 06 Juli 2014

10 Tips Melupakan Mantan Pacar (Move On)


Membahas tentang melupakan mantan kekasih memang menjadi suatu topik yang hampir tidak berujung. Selalu ada berbagai hal atau kondisi yang kembali membuat seseorang terjebak dalam kehidupan asmara lalu yang pernah dijalaninya dengan sang mantan.
Hubungan asmara yang lama terjalin, banyaknya kenangan indah saat bersamanya, hingga keluarga sudah sangat mendukung hubungan asmara Anda dan si dia tentu menjadi beberapa hal yang kembali membuat Anda semakin larut dalam perasaan dilema. Sehingga kondisi akan menjadi suatu kondisi sulit yang tentu harus siap Anda hadapi.
Langkah move on seringkali menjadi alternatif utama kaum wanita untuk menghapus perasaan cinta dan melupakan mantan kekasih. Namun bukan hal yang tidak mungkin pula meskipun telah memiliki kekasih dan menjalani kehidupan asmara yang baru bersamanya dapat menjadi jaminan seseorang untuk benar-benar dapat melupakan sosok sang mantan yang seringkali masih membekas dan menghantui pikiran seseorang.
Oleh karena itu, saat Anda sulit untuk melupakan mantan meski Anda telah memiliki kekasih, terdapat beberapa tips yang diharapkan dapat membantu Anda untuk melupakannya meskipun Anda masih menaruh perasaan cinta yang besar padanya.

Ini dia tips melupakan mantan kekasih walaupun Anda masih mencintainya, antara lain :

1. Turunkan dari posisinya
Umumnya, pasangan akan menaruh kekasihnya di titik tinggi. Tak sedikit yang menempatkan pasangannya di puncak prioritas, bahkan mengidolakan. Jadi, jika Anda sudah siap untuk meninggalkan si mantan, salah satu cara untuk melupakan si dia adalah dengan berhenti mengidolakannya. Berhenti menatap fotonya lamat-lamat, jangan secepat kilat menjawab atau mengangkat teleponnya. Samakan ringtone dari nomornya dengan ringtone umum di ponsel Anda. Terlebih lagi, jangan membuatnya menjadi orang paling spesial dengan mengutamakan kebutuhannya.
2. Tutup
Penting untuk akhirnya mencari “penutupan” dari hubungan Anda berdua. Jika Anda tak bisa menemukan kata-kata “penutupan” itu, tanyakan padanya inti permasalahan yang membuat hubungan itu harus berakhir. Minta ia untuk membuat keadaan lebih jelas. Ia harus bisa mengungkapkan, “Saya enggak pernah benar-benar mencintai kamu,” atau, “Saya sekarang sudah tidak ada rasa dengan kamu,” atau, “Kita enggak akan pernah balikan lagi.” Kata-kata “penutupan” ini dibutuhkan orang yang tadinya tidak bisa menerima keputusan ini untuk bisa melanjutkan hidupnya.
3. Tidak menghubunginya lagi
Setelah mencapai ujung hubungan, Anda dan dia harus berhenti saling menghubungi. Jangan mencoba mencarinya saat keadaan sedang sulit atau butuh teman. Jangan mengirimnya email, jangan pula melakukan tindakan-tindakan untuk membuatnya merasa diingini lagi. Ia akan mencari Anda jika ia memang benar-benar membutuhkan Anda. Jika Anda sudah berusaha mendapatkannya kembali dan ia tidak membalas dengan upaya untuk kembali kepada Anda, itu adalah tanda yang jelas: Anda harus terus maju.
4. Pelampiasan
Pelampiasan bukan berarti hal buruk. Pelampiasan yang bisa Anda lakukan untuk kebaikan diri Anda adalah dengan menuliskan apa yang Anda rasakan, pikiran negatif Anda, dan rasa sedih yang Anda rasa ke atas kertas. Lalu, setelah semua tertuang, bakar kertas itu. Jangan mengirimkan kertas itu ke dia, karena Anda hanya akan menyesal. Ia mungkin akan menunjukkannya ke kekasih baru atau teman dekatnya, dan mereka bisa saja menertawakan surat Anda itu.
5. Hindari teman-teman dan tempat nongkrongnya
Jangan mendekati teritorinya. Anda tidak akan diterima dengan seramah dulu. Carilah tempat nongkrong baru untuk beberapa bulan ke depan, dan kalau perlu, cari teman-teman baru. Jika ada teman-teman Anda yang masih menghubungi si mantan, kalau perlu hindari mereka juga untuk sementara. Setelah beberapa waktu, hati Anda pun mulai tenang, barulah kembali jalani kehidupan Anda seperti dulu, dan ini berarti berkoneksi dengan teman-teman lama.
6. Buang segala hal yang mengingatkan Anda akan dirinya
Tak perlu membakar segala hal yang berhubungan dengan dia, tetapi hal-hal yang mengingatkan akan dirinya, seperti foto, hadiah, baju, surat, dan email yang berhubungan dengannya perlu segera dijauhkan, setidaknya bersih dari jarak pandang Anda. Intinya, singkirkan segala yang mengingatkan Anda akan dia sesegera mungkin
7. Jangan meminta barang Anda kembali
Jika barang itu bukan hal yang sangat-sangat berharga tinggi, seperti cincin berlian atau sejenisnya, sebaiknya tak usah meminta barang-barang itu kembali. DVD lama, baju Anda, apa pun itu, biarkan sajalah. Jika barang itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang Anda alami ketika melihatnya, biarkan saja. Jangan tukar harga diri Anda dengan barang-barang seperti itu.
8. Nongkrong dengan sahabat Anda
Sejak Anda berpacaran dengan dia, kemungkinan terbesar Anda jadi jarang nongkrong bareng teman-teman, kan? Nah, sekarang saatnya bersenang-senang dengan teman-teman.
9. Melatih kebebasan
Saat masih bersama si dia, bisa jadi ada banyak aturan yang perlu dijalani. Patokan-patokan yang harus disepakati bersama, atau mungkin sepihak dan harus Anda turuti. Sekarang, saat Anda sendiri, banyak hal dan waktu yang bisa Anda gunakan untuk diri sendiri. Mau travelling ke tempat-tempat yang ia tak suka tapi Anda sukai? Silakan! Pergi spa? Boleh. Tidur sampai siang di akhir pekan? Bisa. Hm, lebih baik lagi jika Anda melakukan kegiatan akhir minggu yang biasa Anda gunakan bersamanya untuk menambah kepercayaan diri, seperti berlatih kick boxing atau Pilates. Hingga saat Anda bertemu dia lagi, Anda sudah memiliki tubuh yang indah dan membuat dia menyesal. Plus, latihan fisik bisa melepaskan marah dan melepaskan stres.
10. Ingat hal-hal buruk
Jika Anda merasa sendu dan kenangan-kenangan lama itu datang, alihkan ke hal-hal buruk, seperti saat-saat kalian bertengkar. Ingat betapa menyebalkannya ia membuat Anda harus menunggu di halte pinggir jalan berjam-jam atau saat ia tak mau mengalah saat memilih tempat kencan, dan lainnya.

Sumber : http://orb.web.id

Sheila on 7 - Mudah Saja (Lyrics)

 Band : Sheila on 7
Judul : Mudah Saja 
Album : Menentukan Arah
Label : Sony BMG
Tahun : 2008

Tuhan  
Aku berjalan menyusuri malam 
Setelah patah hatiku
Aku berdoa semoga saja 
Ini terbaik untuknya...

Dia bilang 
Kau harus bisa seperti aku 
Yang sudah biarlah sudah...
 
Mudah saja bagimu 
Mudah saja untukmu 
Andai saja.. 
Cintamu seperti cintaku...
 
Selang waktu berjalan kau kembali datang 
Tanyakan keadaanku
 
Ku bilang 
Kau tak berhak tanyakan hidupku 
Membuatku semakin terluka...
 
Mudah saja bagimu 
Mudah saja untukmu 
Coba saja...
Lukamu seperti lukaku...
 
Kau tak berhak tanyakan keadaanku 
Kau tak berhak tanyakan keadaanku...

Mudah saja bagimu 
Mudah saja untukmu 
Andai saja...
Cintamu seperti cintaku...

Mudah saja...

Kamis, 03 Juli 2014

Suami Romantis by Dian Yasmina Fajri (Cerpen)



Aku berdiri di depan kalender. Beberapa hari lagi kami akan melewati tanggal istimewa. Tahun perkawinan kami yang kelima.
Seingatku kami jarang bertengkar. Kalau bukan aku duluan yang cari gara-gara, sepertinya kami tak akan pernah bertengkar. Penyebabnya pun bisa masalah sepele yang bagiku kadang sangat menjengkelkan. Aku bisa menerimanya dengan lapang dada kalau sedang cuek, tapi kalau keimananku lagi tipis aku bisa uring-uringan karenanya.
Suamiku tidak romantis. Dia kadang nggak ngeh dengan apa yang aku mau. Padahal menurutku, dari bahasa tubuh saja seharusnya dia bisa menangkap keinginanku. Orangnya cuek bebek, walupun selera humornya oke juga hingga kadang kami sering melewati hari dengan kelucuan-kelucuan yang menyegarkan. Misalnya, dia tak malu mengajakku berjoget kalau kebetulan mendengarkan iklan Syarmila di televisi. Gayanya dengan jempol ketemu jempol dengan mata dimerem-meremkan kadang membuatku tertawa sampai sakit perut. Soalnya aku pada saat yang sama kadang suka membayangkan bagaimana berwibawanya dia di tempatnya bekerja. Oh, ya, suamiku bekerja di bagian personalia sebuah pabrik sebagai pemimpin yang membawahi ratusan buruh. Dia juga kerap mengisi pengajian bapak-bapak di masjid tempat kami tinggal.
“Aku bilangin bapak-bapak pengajian baru tahu rasa lho!” godaku mencandainya.
“Alaah, kamu juga, di data dulu katanya pendiam, tahunya cerewetnya ‘nggak tahaaaan’!” balasnya menirukan sebuah iklan.
Ia mengungkit data waktu kami berkenalan dulu. Kami menikah tanpa pacaran, tapi dikenalkan oleh teman. Teman yang jadi mak comblang itu bilang padanya kalau aku pendiam. Kenyataanya aku memang pendiam kalau sedang tidur. Tapi kalau dia begitu, ya… terpaksa aku jadi cerewet.
Jam delapan malam saat kepulangannya dari kantor, dia duduk di bangku kesayangannya. Aku mengambilkan the dan makanan kecil, lalu kai saling betukar cerita tentang kejadian yang kami alami seharian tadi. Kadang kalau ana-anak sudah tidur, kami bisa mengobrol sampai setengah sebelas malam atau lebih malam lagi.
“Mandi dulu, Yang!” kataku entah untuk yang keberapa kali di sela-sela obrolan kami
“Apakah harus?”
“Iya lah, kamu berdebu begitu!”
“Ck… ck, Ibu-ibu… mandi itu harus ada sebab-sebabnya!” jawabnya nakal.
“Sebabnya udah jelas… kamu bau bus dan berdebu begitu,” jawabku sambil menutup hidung pura-pura sangat terganggu.
“Ee.. Ingat… kiat-kiat menjaga kulit… Satu, mandi jika ada sebab yang mewajibkan. Dua, banyak bergerak, agar banyak keluar keringat. Tiga, keringat tak usah dilap. Empat, jangan mandi sebelum gatal…!”
Aku jadi tetawa mendengar alasannya. Herannya kulitnya memang dari sononya bening dan bersih. Wajahnya mulus tak pernah jerawatan.
Pernah jerawat menyerang wajahku dan membuatku sebal. Aku pun tanya padanya. “Yang, ngilangin jerawat gimana, sih? Kok kamu nggak pernah jerawatan?”
“Makanya Bu, jangan sering-sering mandi. Kamu sih, habis masak mandi, habis jalan-jalan pagi mandi, kepipisan adik mandi…. Kebanyakan mandi nanti kamu mentik kayak tumbuhan!” jawabnya konyol. Aku terkikik karena dalam pikiranku terbayang biji kacang hijau yang tiap hari disiram hingga mentik jadi toge. Ah, si Sayang memang selalu ada-ada aja! Tapi aku segera tersadar dari lamunanku dan teriak.
“Udah… udah…! Mandi dulu, pokoknya aku nggak mau nyiapin nasi kalau Mas belum mandi,” kataku mengingat kebiasaannya tak mau makan kalau bukan aku yang nyendokin ke piring dan menyiapkan semuanya. Manja!
“Gimana aku mau mandi kalau ada bidadari cantik yang menahan langkahku?”
Ngegombalnya nanti aja!” Aku mendelik, dan dia nyengir bandel lalu segera mengambil handuk dan baju santainya yang dari tadi sudah aku siapkan.
Ketika ia mandi aku menyiapkan makanannya. Beberapa saat kemudian dia keluar dan melemparkan handuk basah ke atas tempat tidur.
“Mas…!” ujarku sambil melirik handuknya.
Sorry sorry, Neeeng. Lupa…” ujarnya sambil cengar-cengir, “Cerewet” bisiknya sambil menggantung handuk di tempatnya dan membuatku mendelik. Ia cuma tertawa.
Begitulah, tak ada yang jelek pada tingkahnya. Dia selalu nyantai saja kalau diprotes ketidakdisiplinnya menaruh handuk, buku, sepatu, sabun mandi, dan lain-lain. Aku juga tak mempedulikannya benar kalau sedang menggebu sayang dan kangenku padanya. Tapi kalau kebetulan sedang bad mood, hal kecil itu bisa juga membuat kami diam-diaman.
Seperti pagi itu, kami berangkat kantor bareng. Senang rasanya bisa bergandengan sepanjang jalan menuju terminal sebelum berganti kendaraan ke kantor masing-masing, apalagi kami jarang bisa bersama. Pulang kerja paling cepat pukul delapan malam ia sampai rumah. Kalau ada kegiatan ekstra seperti Rohis kantor, karang taruna di lingkungan kami, tugas keluar kota, atau mengisi pengajian, kami jarang bisa bersama dalam waktu yang agak lama. Karena itu, kami senang bisa berangkat bareng ke kantor.
Tapi begitulah, hari itu rasanya menjengkelkan sekali. Sedang enak-enaknya jalan bergandengan di tepi trotoar menunggu bus lewat, tiba-tiba busnya datang duluan.
“Bu… Bu, tuh busku datang, yok…” Terburu-buru ia mengejar Patas AC yang memang langka dan selalu penuh itu. Hup, dia melompat ke dalam bus dan meninggalkanku sendirian di jalan. Sebal! Nggak ada basa-basinya. Salam dulu kek, beri aku kesempatan mencium tangannya kek, atau bilang ‘Aku duluan, ya Yang, hati-hati di jalan,’ gitu… Kayak di film-film. Ini, mah… boro-boro. Sebal, rutukku kesal.
Rasa kesalku akhirnya merambat ke hal-hal lain. Seingatku ia pernah mengantar aku belanja ke swalayan seperti yang dilakukan para suami teman-temanku. Tapi coba dia bilang apa, ketika aku minta diantar? “Kamu kan punya kaki, jalanlah sendiri. Tugasku lagi banyak! Tak usah manja. Ingat muslimah harus tegar, siap berjihad fi syara wa dhara!”
Auk ah gelap! Cibirku dalam hati. Aku memang bisa jalan sendiri, tapi kan sekali-kali bolehlah manja. Dia itu kalau aku lagi ingin kolokan kadang masa bodo teuing.
“Mas, kepalaku pusing nih!” kataku dengan memelas, menyilakannya untuk memijit kepalaku atau apalah biar aku bisa sedikit manja padanya.
Dia cuma jawab, “Oh, pusing. Minum obat sana!” katanya tetap menekuri buku yang dibacanya.
Huh, bete! Aku pun jadi cemberut semalaman tapi dia tetap tak sadar. Setelah matanya sepet karena membaca, ia menguap lebar lalu mencium keningku yang sedang cemberut di sampingnya lalu mendengkur tidur. Hih… gak liat apa aku udah pasang muka ditekuk begitu? Kan capek, hargain sedikit, dong! Sebballl!
Pernah suatu saat dia bertugas keluar kota. Aku mengantarnya sampai stasiun kereta berharap bisa bercakap melepas kangen sebelum berpisah. Namun, di stasiun dia bertemu dengan kawannya waktu kuliah dulu. Ngobrol lama sekali. Aku tak ikut mengobrol karena tak tahu topik pembicaraan anak teknik industri, dan ia laki-laki, lagipula suamiku lupa mengenalkan temannya itu padaku. Aku cuma bisa berdiri menunggu jadi kambing congek. Setelah sekitar empat puluh menit, percakapan itu baru selesai. Itupun karena kereta Argobromo datang dan ia tergesa-gesa mengangkat barang-barangnya.
“Bu… aku berangkat, ya, hati-hati di rumah!”
Aku cuma menatap kepergiannya dengan doa. Semoga selamat pulang dan pergi. Tapi dasar suamiku cuek. Tiga hari di luar kota, tak memberi kabar apapun. Telepon kek, kalau sudah sampai atau kasih tahu kami dimana dia menginap. Apa dia sehat-sehat saja? Pikiranku jadi macam-macam. Jangan-jangan dia tidak sampai? Jangan-jangan ada penjahat yang menodongnya lalu ia terluka, berdarah-darah dan masuk rumah sakit? Atau dia mengalami kecelakaan, ketabrak truk waktu hendak menyeberang, terkapar sendirian, tewas mengenaskan, tak ada saudara yang tahu, dan aku… aku jadi janda…. Lalu bagaimana dengan dua anakku yang masih kecil-kecil itu. Akhirnya aku menangis di depan anak-anakku yang tengah terlelap tidur. ‘Kalian akan jadi yatim, Nak!’ bisikku pilu.
Aku pun merancang-rancang rencana kalau suamiku benar-benar mati. Mungkin aku akan jualan gado-gado, atau menitipkan kue-kue ke toko-toko untuk menunjang gaji kantorku yang tidak begitu besar. Tiba-tiba pikiranku melompat. Atau jangan-jangan dia sudah punya istri baru disana, jadi lupa meneleponku. Hatiku jadi cemburu tak karuan. Teganya si Mas. Mas, awas saja kalau sampai begitu, aku nggak relaaa…!!!
Selama itu aku jadi salah tingkah, cemas, sehingga tidak punya nafsu makan dan tak bisa tidur karena memikirkannya. Aku berusaha banyak shalat dan membaca Al Qur’an, tapi pikiranku tak khusyuk, mengembara kemana-mana.
Tiga hari kemudian dia datang dengan tas besarnya yang berisi pakaian kotor dan beberapa tas oleh-oleh.
“Assalamu’alaikum!”
Ia merangkul anak-anaknya dengan sepenuh kangen. Diam-diam aku memandanginya menyelidiki kalau-kalau memang dia punya affair, tapi tingkahnya tak mencurigakan kecuali kalau dia aktor yang bisa berakting luar biasa. Ketika ia mengungkapkan kekangenannya padaku, kedengarannya sangat tulus, tak dibuat-buat. Hilang sudah prasangkaku, walaupun setelah ia istirahat aku tumpahkan juga unek-unekku atas kelalaiannya menelepon.
“Ya, ampun… Bu…Bu, makanya jangan kebanyakan nonton sinetron! Jadi emosional begitu!”
Dia malah tertawa mendengar kekhawatiranku yang berlebuhan. “Kalau aku meninggal, kawin aja lagi, repot amat… kamu masih muda dan cantik!” katanya di sela tawa.
Aku malah tambah sewot.
“Memangnya kamu pikir aku mudah gonta-ganti pasangan? Aku, tuh tipe wanita setia tau? Kalau sudah satu, satu selamanya untuk seumur hidup! Lagian apa susahnya ngangkat telpon, kasih kabar kamu dimana, lagi ngapain…” Aku nyap-nyap nggak karuan, mengungkit semuanya.
Mungkin karena masih capek dari luar kota, dia dengan sukses mendengkur tak mempedulikan omelanku.
“Hai, jangan tidur dulu, aku belum puas ngomelnya!” kataku mengguncang-guncang badannya tapi dengkurannya malah tambah keras.
Besoknya habis shalat shubuh berjamaah, aku menekuk mukaku sampai saat sarapan. Rupanya dia juga kesal dengan sikapku. Kami jadi diam-diaman dan berangkat kantor sendiri-sendiri. Tapi tengah hari ia menelepon ke kantorku meminta maaf.
Malam harinya dia bilang, “Jangan berantem lagi ya Bu? Capek!”
Aku mengiyakan. Iya lah. Memangnya cemberut terus gak capek? Mana sedang kangen lagi!
Sejak saat itu, ia memang agak mendingan. Kalau mau pulang kemalaman, dia telepon dulu member kabar, menyuruhku makan malam duluan. Tapi itu tak berlangsung lama. Kalau tak diingatkan, kebiasaan cueknya suka kembali.
Memang sudah cetakannya begitu ‘ngkali. Dengan saudara-saudaranya juga begitu. Ia tak pernah telepon kalau aku tak mengingatkannya. Aku maklum, memang hubungan persaudaraan mereka agak kaku, tidak heboh seperti hubunganku dengan kakak dan adik-adikku. Bahkan ketika aku suruh dia menelepon ibunya minimal seminggu sekali, ia malah bilang, ‘Ngomongin apa, ya?’ Padahal aku sendiri dalam seminggu paling tidak menghabiskan sejam dua jam untuk menelepon ortu, mertua, dan saudara-saudara.
Mengingat sifatnya memang cuek, aku tak menekuk mukaku ketika ia pulang menjelang pukul setengah sebelas. Biasa, habis ngisi pengajian. Aku menyiapkan makan dan mengobrol dengan manis. Kami diskusi tentang buku yang baru dibacanya, kebetulan tentang komunikasi suami istri.
Aku arahkan pembicaraan ke tingkahnya yang membuatku kesal. Tapi aku tak mau to the point. Aku arahkan hal itu dengan bercerita tentang temen SMU-ku dulu. Iman dan Novi yang putus pacaran cuma gara-gara tak dibukakan pintu mobil.
Alkisah, Novi sudah berdandan habis, berusaha secantik mungkin untuk ngedate, tapi Iman datang dengan jeans belel dan kaos oblong. Novi berjalan keluar laksana seorang Putri. Ia berdiri menanti, sementara Iman langsung membuka mobil dan duduk di belakang kemudi. Novi sebenarnya menunggu dibukakan pintu, seperti yang biasa dilakukan para gentleman. Akan tetapi, Iman malah mengklakson mobilnya dengan tak sabar. Akhirnya mereka bertengkar. Besok pagi berita bahwa mereka putus telah tersebar ke seluruh penjuru sekolah. Novi bilang padaku bahwa dia capek  jalan sama orang yang nggak ada romantis-romantisnya. Sedangkan Iman bilang, emangnya dia gak punya tangan buat buka pintu?
“Dulu aku heran, kok bisa-bisanya gara-gara nggak dibukain pintu mobil aja hubungan mereka jadi putus?” kataku pada suamiku yang mendengarkan sambil menikmati makanannya.
“Itu tandanya Allah masih sayang sama si Iman. Dia dijaga Allah biar nggak pacaran. Mungkin dia sekarang udah insyaf. Mungkin dia udah jadi ustadz!”
“Ih kamu salah ngambil ibrah!” selaku keki. Aku kan cerita begitu untuk menyindirnya.
“Aku ngomong begini sehubungan dengan … kamu kalau naik bus duluan. Mbok ya jangan ninggalin aku begitu aja. Salam dulu kek, basa-basi apa gitu… Ini, sih, terus aja lari. Habis manis sepah dibuang!”
Doo, si Eneeeng maree!”
Aku terus saja menumpahkan kekesalanku tentang kecuekan dan ketidakromantisannya. Tentang seringnya aku member hadiah dasi, kemeja, dan memperhatikan pernak-pernik kebutuhannya, walaupun kukatakan itu memang uang gajinya. Tapi dia jarang memberiku hadiah. Sekalinya aku ulang tahun, aku diberi kado pisau Victorinox. Memang sih pisau itu sangat membantuku di dapur. Tapi kayaknya ngeri… dihadiahi pisau. Yang romantis dikit, dong! Sampai dia tak pernah membelikan bunga untukku pun ikut kukeluhkan.
“Ya ampun, Say… aku kan sudah menyerahkan semua gajiku padamu, maksudnya biar kamu bisa beli bunga segerobak atau sesuka yang kamu mau!”
Aku terpaksa tertawa mendengar jawabannya. “Dasar si Ayah… tak ada romantis-romantisnya. Kamu kan pegang kredit card dan ATM, jadi bisa belanja!” kataku di sela-sela rasa geli karena sifat cueknya yang memang tak dibuat-buat.
Sejak itu aku lebih maklum lagi dengan sifatnya. Kalau aku lagi merasa terganggu dengan sifatnya, aku mencoba mengingat-ingat segala kebaikannya. Perihal dia tak pernah marah, hampir selalu bermuka cerah di hadapanku, shalih dan rajin ibadah, tegas dan punya prinsip, cerdas dan enak diajak diskusi, dan yang paling penting sekali ia sangat mendukung serta memberikan kebebasan padaku untuk mengembangkan diri, sejauh itu bisa dipertanggungjawabkan.
Keesokan harinya ia membawa lima buah pot bunga mawar sepulang kerja.
Say.. Say… ini aku belikan pohon mawar. Aku tidak membelikanmu bunga, tapi pohon… biar kamu bisa memetik bunganya sepanjang hari. Sesering kamu suka.”
Aku tertawa haru. “Makasih, ya, Mas,” ujarku sambil menghadiahinya sun sayang. Minimal dia mulai mengerti keinginanku.
Sekarang kalau berangkat kerja bareng, ketika akan naik angkot, dia menyilakan aku naik duluan, dan ketika sampai, dia menungguku turun lebih dulu.
Udah nyadar?” bisikku padanya sambil berjalan di sisinya.
Ladies first! Aku kan banyak belajar dari kamu!” jawabnya kalem.
Ya memang sepanjang tahun perkawinan, kami terus belajar satu sama lain. Seperti tiap saat ada saja hal-hal unik dari dirinya yang baru kuketahui dan berusaha aku pahami.
Memasuki tahun kelima pernikahan kami, aku ingin menyiapkan sesuatu yang spesial untuk keluarga. Aku masak yang agak banyak dan istimewa, menyiapkan bunga segar dan lilin untuk candle light. Pagi-pagi sebelum Shubuh, aku mandi dan mulai memasak. Selesai shalat di masjid, suamiku membaca Al Qur’an kemudian tidur lagi. Sepertinya dia lupa pada tanggal istimewa kami. Dan memang dia jarang merasa istimewa pada tanggal-tanggal yang sebalikknya kuanggap istimewa.
Aku juga segan mengingatkan. Ia malah sibuk sendiri memilih baju untuk rapat pertemuan direksi. Ketika sarapan, aku singkirkan bunga segar dari meja makan dan menaruhnya di meja ruang tamu. Kami sarapan tanpa banyak cakap. Anak-anak pun tak rewel saat disuapi.
Aku menunggu ucapan selamatnya sampai kami menunggu angkot. Ternyata dia biasa saja sampai kami berpisah bus karena kantor kami lain jurusan. Ya… sudahlah, pikirku maklum.
Ketika sibuk-sibuknya menyelesaikan pekerjaan kantor, pukul setengah dua belas siang, ia nongol di ruanganku.
“Ada apa, Mas?” aku langsung berdiri menyambutnya.
Dia tersenyum misterius. “Mau ngapain kamu rapi banget? Pakai jas dan dasi segala. Jangan cakep-cakep, nanti cewek-cewek pada naksir!” sapaku heran.
“Kan tadi abis rapat. Udah, jangan cerewet. Ngelunch. yuuk!”
“Hah, Makan siang? Kamu nggak kerja?”
“Kan hari ini kita ulang tahun pernikahan? Tumben kamu nggak ingat?”
“Jadi Mas ingat? Dari tadi pagi?”
“Nggak sih..! Pas lagi ngomong-ngomong sama temanku, aku jadi ingat hari ini kita ulang tahun. Kebetulan aku habis ngantar big bos ke airport, terus ada urusan luar, dan masih ada waktu buat kita makan siang berdua. Ayo, kapan lagi!”
Aku tertawa girang. “Wah, surprise, dong! Aku minta izin keluar sebentar… kalau-kalau nanti telat kembali ke kantor!”
“Aku sudah minta izin. Kubilang ada urusan keluarga!” katanya berbisik sambil tersenyum.
Teman-teman kantor sibuk menggoda ketika aku jalan keluar dengannya.
“Gandengan nih yee!”
Pokoknya aku tersenyum terus sepanjang jalan. Happy berat. Apalagi dia bawa mobil kantor segala. Ketika aku mau buka pintu, ia buru-buru membukakan pintuku. Tambah surprise lagi ketika dia memberiku buket bunga mawar. Wow, hatiku turut berbunga-bunga.
Kami makan di restoran yang agak mewah.
“Bayar, Say…!” katanya selesai kami makan.
“Bayar? Bukannya kamu yang traktir?” tanyaku terkejut.
“Aku nggak bawa uang. Kan ATM dan kredit card ada di kamu, kemarin kamu minta buat bayar telepon!” katanya lagi.
“Aku nggak bawa. Tadi pagi kutaruh di lemari buku. Aku cuma bawa uang pas untuk ongkos saja, dua puluh ribu… itu pun sudah dipakai buat bayar bus!” kataku bingung.
Aku memang jarang bawa uang tunai dalam jumlah banyak. Begitu juga suamiku.
“Wah, gimana nih?”
Ia malah tertawa-tawa geli. Aku ngomel-ngomel karena diajak makan tanpa persiapan uang.
“Makanya Mas, jadi orang perhatian dikit!” ujarku kesal.
Ia malah semakin lebar tertawanya. Akhirnya ia menemui manajer restoran, menjelaskan semuanya dan meninggalkan KTP. Untung manajer itu mau menerima walaupun wajahnya agak curiga. Malunya itu lho, masak makan di resto dengan jaminan KTP.
Sorry ya, Yang… He, tambahin ongkos, dong..! Uangku habis buat beli bunga!” katanya lagi sambil mesam-mesem.
Aku tambah mendelik keki. Sekali lagi aku berusaha maklum. Memang sudah dari sana cetakannya begitu! Pikirku sambil memandangnya gemas…