mengubah kursor tapi tidak mengubah kursor ketika menyorot link

Kamis, 03 Juli 2014

Suami Romantis by Dian Yasmina Fajri (Cerpen)



Aku berdiri di depan kalender. Beberapa hari lagi kami akan melewati tanggal istimewa. Tahun perkawinan kami yang kelima.
Seingatku kami jarang bertengkar. Kalau bukan aku duluan yang cari gara-gara, sepertinya kami tak akan pernah bertengkar. Penyebabnya pun bisa masalah sepele yang bagiku kadang sangat menjengkelkan. Aku bisa menerimanya dengan lapang dada kalau sedang cuek, tapi kalau keimananku lagi tipis aku bisa uring-uringan karenanya.
Suamiku tidak romantis. Dia kadang nggak ngeh dengan apa yang aku mau. Padahal menurutku, dari bahasa tubuh saja seharusnya dia bisa menangkap keinginanku. Orangnya cuek bebek, walupun selera humornya oke juga hingga kadang kami sering melewati hari dengan kelucuan-kelucuan yang menyegarkan. Misalnya, dia tak malu mengajakku berjoget kalau kebetulan mendengarkan iklan Syarmila di televisi. Gayanya dengan jempol ketemu jempol dengan mata dimerem-meremkan kadang membuatku tertawa sampai sakit perut. Soalnya aku pada saat yang sama kadang suka membayangkan bagaimana berwibawanya dia di tempatnya bekerja. Oh, ya, suamiku bekerja di bagian personalia sebuah pabrik sebagai pemimpin yang membawahi ratusan buruh. Dia juga kerap mengisi pengajian bapak-bapak di masjid tempat kami tinggal.
“Aku bilangin bapak-bapak pengajian baru tahu rasa lho!” godaku mencandainya.
“Alaah, kamu juga, di data dulu katanya pendiam, tahunya cerewetnya ‘nggak tahaaaan’!” balasnya menirukan sebuah iklan.
Ia mengungkit data waktu kami berkenalan dulu. Kami menikah tanpa pacaran, tapi dikenalkan oleh teman. Teman yang jadi mak comblang itu bilang padanya kalau aku pendiam. Kenyataanya aku memang pendiam kalau sedang tidur. Tapi kalau dia begitu, ya… terpaksa aku jadi cerewet.
Jam delapan malam saat kepulangannya dari kantor, dia duduk di bangku kesayangannya. Aku mengambilkan the dan makanan kecil, lalu kai saling betukar cerita tentang kejadian yang kami alami seharian tadi. Kadang kalau ana-anak sudah tidur, kami bisa mengobrol sampai setengah sebelas malam atau lebih malam lagi.
“Mandi dulu, Yang!” kataku entah untuk yang keberapa kali di sela-sela obrolan kami
“Apakah harus?”
“Iya lah, kamu berdebu begitu!”
“Ck… ck, Ibu-ibu… mandi itu harus ada sebab-sebabnya!” jawabnya nakal.
“Sebabnya udah jelas… kamu bau bus dan berdebu begitu,” jawabku sambil menutup hidung pura-pura sangat terganggu.
“Ee.. Ingat… kiat-kiat menjaga kulit… Satu, mandi jika ada sebab yang mewajibkan. Dua, banyak bergerak, agar banyak keluar keringat. Tiga, keringat tak usah dilap. Empat, jangan mandi sebelum gatal…!”
Aku jadi tetawa mendengar alasannya. Herannya kulitnya memang dari sononya bening dan bersih. Wajahnya mulus tak pernah jerawatan.
Pernah jerawat menyerang wajahku dan membuatku sebal. Aku pun tanya padanya. “Yang, ngilangin jerawat gimana, sih? Kok kamu nggak pernah jerawatan?”
“Makanya Bu, jangan sering-sering mandi. Kamu sih, habis masak mandi, habis jalan-jalan pagi mandi, kepipisan adik mandi…. Kebanyakan mandi nanti kamu mentik kayak tumbuhan!” jawabnya konyol. Aku terkikik karena dalam pikiranku terbayang biji kacang hijau yang tiap hari disiram hingga mentik jadi toge. Ah, si Sayang memang selalu ada-ada aja! Tapi aku segera tersadar dari lamunanku dan teriak.
“Udah… udah…! Mandi dulu, pokoknya aku nggak mau nyiapin nasi kalau Mas belum mandi,” kataku mengingat kebiasaannya tak mau makan kalau bukan aku yang nyendokin ke piring dan menyiapkan semuanya. Manja!
“Gimana aku mau mandi kalau ada bidadari cantik yang menahan langkahku?”
Ngegombalnya nanti aja!” Aku mendelik, dan dia nyengir bandel lalu segera mengambil handuk dan baju santainya yang dari tadi sudah aku siapkan.
Ketika ia mandi aku menyiapkan makanannya. Beberapa saat kemudian dia keluar dan melemparkan handuk basah ke atas tempat tidur.
“Mas…!” ujarku sambil melirik handuknya.
Sorry sorry, Neeeng. Lupa…” ujarnya sambil cengar-cengir, “Cerewet” bisiknya sambil menggantung handuk di tempatnya dan membuatku mendelik. Ia cuma tertawa.
Begitulah, tak ada yang jelek pada tingkahnya. Dia selalu nyantai saja kalau diprotes ketidakdisiplinnya menaruh handuk, buku, sepatu, sabun mandi, dan lain-lain. Aku juga tak mempedulikannya benar kalau sedang menggebu sayang dan kangenku padanya. Tapi kalau kebetulan sedang bad mood, hal kecil itu bisa juga membuat kami diam-diaman.
Seperti pagi itu, kami berangkat kantor bareng. Senang rasanya bisa bergandengan sepanjang jalan menuju terminal sebelum berganti kendaraan ke kantor masing-masing, apalagi kami jarang bisa bersama. Pulang kerja paling cepat pukul delapan malam ia sampai rumah. Kalau ada kegiatan ekstra seperti Rohis kantor, karang taruna di lingkungan kami, tugas keluar kota, atau mengisi pengajian, kami jarang bisa bersama dalam waktu yang agak lama. Karena itu, kami senang bisa berangkat bareng ke kantor.
Tapi begitulah, hari itu rasanya menjengkelkan sekali. Sedang enak-enaknya jalan bergandengan di tepi trotoar menunggu bus lewat, tiba-tiba busnya datang duluan.
“Bu… Bu, tuh busku datang, yok…” Terburu-buru ia mengejar Patas AC yang memang langka dan selalu penuh itu. Hup, dia melompat ke dalam bus dan meninggalkanku sendirian di jalan. Sebal! Nggak ada basa-basinya. Salam dulu kek, beri aku kesempatan mencium tangannya kek, atau bilang ‘Aku duluan, ya Yang, hati-hati di jalan,’ gitu… Kayak di film-film. Ini, mah… boro-boro. Sebal, rutukku kesal.
Rasa kesalku akhirnya merambat ke hal-hal lain. Seingatku ia pernah mengantar aku belanja ke swalayan seperti yang dilakukan para suami teman-temanku. Tapi coba dia bilang apa, ketika aku minta diantar? “Kamu kan punya kaki, jalanlah sendiri. Tugasku lagi banyak! Tak usah manja. Ingat muslimah harus tegar, siap berjihad fi syara wa dhara!”
Auk ah gelap! Cibirku dalam hati. Aku memang bisa jalan sendiri, tapi kan sekali-kali bolehlah manja. Dia itu kalau aku lagi ingin kolokan kadang masa bodo teuing.
“Mas, kepalaku pusing nih!” kataku dengan memelas, menyilakannya untuk memijit kepalaku atau apalah biar aku bisa sedikit manja padanya.
Dia cuma jawab, “Oh, pusing. Minum obat sana!” katanya tetap menekuri buku yang dibacanya.
Huh, bete! Aku pun jadi cemberut semalaman tapi dia tetap tak sadar. Setelah matanya sepet karena membaca, ia menguap lebar lalu mencium keningku yang sedang cemberut di sampingnya lalu mendengkur tidur. Hih… gak liat apa aku udah pasang muka ditekuk begitu? Kan capek, hargain sedikit, dong! Sebballl!
Pernah suatu saat dia bertugas keluar kota. Aku mengantarnya sampai stasiun kereta berharap bisa bercakap melepas kangen sebelum berpisah. Namun, di stasiun dia bertemu dengan kawannya waktu kuliah dulu. Ngobrol lama sekali. Aku tak ikut mengobrol karena tak tahu topik pembicaraan anak teknik industri, dan ia laki-laki, lagipula suamiku lupa mengenalkan temannya itu padaku. Aku cuma bisa berdiri menunggu jadi kambing congek. Setelah sekitar empat puluh menit, percakapan itu baru selesai. Itupun karena kereta Argobromo datang dan ia tergesa-gesa mengangkat barang-barangnya.
“Bu… aku berangkat, ya, hati-hati di rumah!”
Aku cuma menatap kepergiannya dengan doa. Semoga selamat pulang dan pergi. Tapi dasar suamiku cuek. Tiga hari di luar kota, tak memberi kabar apapun. Telepon kek, kalau sudah sampai atau kasih tahu kami dimana dia menginap. Apa dia sehat-sehat saja? Pikiranku jadi macam-macam. Jangan-jangan dia tidak sampai? Jangan-jangan ada penjahat yang menodongnya lalu ia terluka, berdarah-darah dan masuk rumah sakit? Atau dia mengalami kecelakaan, ketabrak truk waktu hendak menyeberang, terkapar sendirian, tewas mengenaskan, tak ada saudara yang tahu, dan aku… aku jadi janda…. Lalu bagaimana dengan dua anakku yang masih kecil-kecil itu. Akhirnya aku menangis di depan anak-anakku yang tengah terlelap tidur. ‘Kalian akan jadi yatim, Nak!’ bisikku pilu.
Aku pun merancang-rancang rencana kalau suamiku benar-benar mati. Mungkin aku akan jualan gado-gado, atau menitipkan kue-kue ke toko-toko untuk menunjang gaji kantorku yang tidak begitu besar. Tiba-tiba pikiranku melompat. Atau jangan-jangan dia sudah punya istri baru disana, jadi lupa meneleponku. Hatiku jadi cemburu tak karuan. Teganya si Mas. Mas, awas saja kalau sampai begitu, aku nggak relaaa…!!!
Selama itu aku jadi salah tingkah, cemas, sehingga tidak punya nafsu makan dan tak bisa tidur karena memikirkannya. Aku berusaha banyak shalat dan membaca Al Qur’an, tapi pikiranku tak khusyuk, mengembara kemana-mana.
Tiga hari kemudian dia datang dengan tas besarnya yang berisi pakaian kotor dan beberapa tas oleh-oleh.
“Assalamu’alaikum!”
Ia merangkul anak-anaknya dengan sepenuh kangen. Diam-diam aku memandanginya menyelidiki kalau-kalau memang dia punya affair, tapi tingkahnya tak mencurigakan kecuali kalau dia aktor yang bisa berakting luar biasa. Ketika ia mengungkapkan kekangenannya padaku, kedengarannya sangat tulus, tak dibuat-buat. Hilang sudah prasangkaku, walaupun setelah ia istirahat aku tumpahkan juga unek-unekku atas kelalaiannya menelepon.
“Ya, ampun… Bu…Bu, makanya jangan kebanyakan nonton sinetron! Jadi emosional begitu!”
Dia malah tertawa mendengar kekhawatiranku yang berlebuhan. “Kalau aku meninggal, kawin aja lagi, repot amat… kamu masih muda dan cantik!” katanya di sela tawa.
Aku malah tambah sewot.
“Memangnya kamu pikir aku mudah gonta-ganti pasangan? Aku, tuh tipe wanita setia tau? Kalau sudah satu, satu selamanya untuk seumur hidup! Lagian apa susahnya ngangkat telpon, kasih kabar kamu dimana, lagi ngapain…” Aku nyap-nyap nggak karuan, mengungkit semuanya.
Mungkin karena masih capek dari luar kota, dia dengan sukses mendengkur tak mempedulikan omelanku.
“Hai, jangan tidur dulu, aku belum puas ngomelnya!” kataku mengguncang-guncang badannya tapi dengkurannya malah tambah keras.
Besoknya habis shalat shubuh berjamaah, aku menekuk mukaku sampai saat sarapan. Rupanya dia juga kesal dengan sikapku. Kami jadi diam-diaman dan berangkat kantor sendiri-sendiri. Tapi tengah hari ia menelepon ke kantorku meminta maaf.
Malam harinya dia bilang, “Jangan berantem lagi ya Bu? Capek!”
Aku mengiyakan. Iya lah. Memangnya cemberut terus gak capek? Mana sedang kangen lagi!
Sejak saat itu, ia memang agak mendingan. Kalau mau pulang kemalaman, dia telepon dulu member kabar, menyuruhku makan malam duluan. Tapi itu tak berlangsung lama. Kalau tak diingatkan, kebiasaan cueknya suka kembali.
Memang sudah cetakannya begitu ‘ngkali. Dengan saudara-saudaranya juga begitu. Ia tak pernah telepon kalau aku tak mengingatkannya. Aku maklum, memang hubungan persaudaraan mereka agak kaku, tidak heboh seperti hubunganku dengan kakak dan adik-adikku. Bahkan ketika aku suruh dia menelepon ibunya minimal seminggu sekali, ia malah bilang, ‘Ngomongin apa, ya?’ Padahal aku sendiri dalam seminggu paling tidak menghabiskan sejam dua jam untuk menelepon ortu, mertua, dan saudara-saudara.
Mengingat sifatnya memang cuek, aku tak menekuk mukaku ketika ia pulang menjelang pukul setengah sebelas. Biasa, habis ngisi pengajian. Aku menyiapkan makan dan mengobrol dengan manis. Kami diskusi tentang buku yang baru dibacanya, kebetulan tentang komunikasi suami istri.
Aku arahkan pembicaraan ke tingkahnya yang membuatku kesal. Tapi aku tak mau to the point. Aku arahkan hal itu dengan bercerita tentang temen SMU-ku dulu. Iman dan Novi yang putus pacaran cuma gara-gara tak dibukakan pintu mobil.
Alkisah, Novi sudah berdandan habis, berusaha secantik mungkin untuk ngedate, tapi Iman datang dengan jeans belel dan kaos oblong. Novi berjalan keluar laksana seorang Putri. Ia berdiri menanti, sementara Iman langsung membuka mobil dan duduk di belakang kemudi. Novi sebenarnya menunggu dibukakan pintu, seperti yang biasa dilakukan para gentleman. Akan tetapi, Iman malah mengklakson mobilnya dengan tak sabar. Akhirnya mereka bertengkar. Besok pagi berita bahwa mereka putus telah tersebar ke seluruh penjuru sekolah. Novi bilang padaku bahwa dia capek  jalan sama orang yang nggak ada romantis-romantisnya. Sedangkan Iman bilang, emangnya dia gak punya tangan buat buka pintu?
“Dulu aku heran, kok bisa-bisanya gara-gara nggak dibukain pintu mobil aja hubungan mereka jadi putus?” kataku pada suamiku yang mendengarkan sambil menikmati makanannya.
“Itu tandanya Allah masih sayang sama si Iman. Dia dijaga Allah biar nggak pacaran. Mungkin dia sekarang udah insyaf. Mungkin dia udah jadi ustadz!”
“Ih kamu salah ngambil ibrah!” selaku keki. Aku kan cerita begitu untuk menyindirnya.
“Aku ngomong begini sehubungan dengan … kamu kalau naik bus duluan. Mbok ya jangan ninggalin aku begitu aja. Salam dulu kek, basa-basi apa gitu… Ini, sih, terus aja lari. Habis manis sepah dibuang!”
Doo, si Eneeeng maree!”
Aku terus saja menumpahkan kekesalanku tentang kecuekan dan ketidakromantisannya. Tentang seringnya aku member hadiah dasi, kemeja, dan memperhatikan pernak-pernik kebutuhannya, walaupun kukatakan itu memang uang gajinya. Tapi dia jarang memberiku hadiah. Sekalinya aku ulang tahun, aku diberi kado pisau Victorinox. Memang sih pisau itu sangat membantuku di dapur. Tapi kayaknya ngeri… dihadiahi pisau. Yang romantis dikit, dong! Sampai dia tak pernah membelikan bunga untukku pun ikut kukeluhkan.
“Ya ampun, Say… aku kan sudah menyerahkan semua gajiku padamu, maksudnya biar kamu bisa beli bunga segerobak atau sesuka yang kamu mau!”
Aku terpaksa tertawa mendengar jawabannya. “Dasar si Ayah… tak ada romantis-romantisnya. Kamu kan pegang kredit card dan ATM, jadi bisa belanja!” kataku di sela-sela rasa geli karena sifat cueknya yang memang tak dibuat-buat.
Sejak itu aku lebih maklum lagi dengan sifatnya. Kalau aku lagi merasa terganggu dengan sifatnya, aku mencoba mengingat-ingat segala kebaikannya. Perihal dia tak pernah marah, hampir selalu bermuka cerah di hadapanku, shalih dan rajin ibadah, tegas dan punya prinsip, cerdas dan enak diajak diskusi, dan yang paling penting sekali ia sangat mendukung serta memberikan kebebasan padaku untuk mengembangkan diri, sejauh itu bisa dipertanggungjawabkan.
Keesokan harinya ia membawa lima buah pot bunga mawar sepulang kerja.
Say.. Say… ini aku belikan pohon mawar. Aku tidak membelikanmu bunga, tapi pohon… biar kamu bisa memetik bunganya sepanjang hari. Sesering kamu suka.”
Aku tertawa haru. “Makasih, ya, Mas,” ujarku sambil menghadiahinya sun sayang. Minimal dia mulai mengerti keinginanku.
Sekarang kalau berangkat kerja bareng, ketika akan naik angkot, dia menyilakan aku naik duluan, dan ketika sampai, dia menungguku turun lebih dulu.
Udah nyadar?” bisikku padanya sambil berjalan di sisinya.
Ladies first! Aku kan banyak belajar dari kamu!” jawabnya kalem.
Ya memang sepanjang tahun perkawinan, kami terus belajar satu sama lain. Seperti tiap saat ada saja hal-hal unik dari dirinya yang baru kuketahui dan berusaha aku pahami.
Memasuki tahun kelima pernikahan kami, aku ingin menyiapkan sesuatu yang spesial untuk keluarga. Aku masak yang agak banyak dan istimewa, menyiapkan bunga segar dan lilin untuk candle light. Pagi-pagi sebelum Shubuh, aku mandi dan mulai memasak. Selesai shalat di masjid, suamiku membaca Al Qur’an kemudian tidur lagi. Sepertinya dia lupa pada tanggal istimewa kami. Dan memang dia jarang merasa istimewa pada tanggal-tanggal yang sebalikknya kuanggap istimewa.
Aku juga segan mengingatkan. Ia malah sibuk sendiri memilih baju untuk rapat pertemuan direksi. Ketika sarapan, aku singkirkan bunga segar dari meja makan dan menaruhnya di meja ruang tamu. Kami sarapan tanpa banyak cakap. Anak-anak pun tak rewel saat disuapi.
Aku menunggu ucapan selamatnya sampai kami menunggu angkot. Ternyata dia biasa saja sampai kami berpisah bus karena kantor kami lain jurusan. Ya… sudahlah, pikirku maklum.
Ketika sibuk-sibuknya menyelesaikan pekerjaan kantor, pukul setengah dua belas siang, ia nongol di ruanganku.
“Ada apa, Mas?” aku langsung berdiri menyambutnya.
Dia tersenyum misterius. “Mau ngapain kamu rapi banget? Pakai jas dan dasi segala. Jangan cakep-cakep, nanti cewek-cewek pada naksir!” sapaku heran.
“Kan tadi abis rapat. Udah, jangan cerewet. Ngelunch. yuuk!”
“Hah, Makan siang? Kamu nggak kerja?”
“Kan hari ini kita ulang tahun pernikahan? Tumben kamu nggak ingat?”
“Jadi Mas ingat? Dari tadi pagi?”
“Nggak sih..! Pas lagi ngomong-ngomong sama temanku, aku jadi ingat hari ini kita ulang tahun. Kebetulan aku habis ngantar big bos ke airport, terus ada urusan luar, dan masih ada waktu buat kita makan siang berdua. Ayo, kapan lagi!”
Aku tertawa girang. “Wah, surprise, dong! Aku minta izin keluar sebentar… kalau-kalau nanti telat kembali ke kantor!”
“Aku sudah minta izin. Kubilang ada urusan keluarga!” katanya berbisik sambil tersenyum.
Teman-teman kantor sibuk menggoda ketika aku jalan keluar dengannya.
“Gandengan nih yee!”
Pokoknya aku tersenyum terus sepanjang jalan. Happy berat. Apalagi dia bawa mobil kantor segala. Ketika aku mau buka pintu, ia buru-buru membukakan pintuku. Tambah surprise lagi ketika dia memberiku buket bunga mawar. Wow, hatiku turut berbunga-bunga.
Kami makan di restoran yang agak mewah.
“Bayar, Say…!” katanya selesai kami makan.
“Bayar? Bukannya kamu yang traktir?” tanyaku terkejut.
“Aku nggak bawa uang. Kan ATM dan kredit card ada di kamu, kemarin kamu minta buat bayar telepon!” katanya lagi.
“Aku nggak bawa. Tadi pagi kutaruh di lemari buku. Aku cuma bawa uang pas untuk ongkos saja, dua puluh ribu… itu pun sudah dipakai buat bayar bus!” kataku bingung.
Aku memang jarang bawa uang tunai dalam jumlah banyak. Begitu juga suamiku.
“Wah, gimana nih?”
Ia malah tertawa-tawa geli. Aku ngomel-ngomel karena diajak makan tanpa persiapan uang.
“Makanya Mas, jadi orang perhatian dikit!” ujarku kesal.
Ia malah semakin lebar tertawanya. Akhirnya ia menemui manajer restoran, menjelaskan semuanya dan meninggalkan KTP. Untung manajer itu mau menerima walaupun wajahnya agak curiga. Malunya itu lho, masak makan di resto dengan jaminan KTP.
Sorry ya, Yang… He, tambahin ongkos, dong..! Uangku habis buat beli bunga!” katanya lagi sambil mesam-mesem.
Aku tambah mendelik keki. Sekali lagi aku berusaha maklum. Memang sudah dari sana cetakannya begitu! Pikirku sambil memandangnya gemas…